Selasa, 30 Agustus 2016

Bergetar Hati Membaca Kisah Wasiat Dikubur di Najaf.



Diceritakan bahwa Amirul Mukminin, suatu hari dalam keadaan duduk di kota Najaf,Kufah. Beliau as bertanya kepada orang-orang disekitarnya, "Siapa gerangan yang melihat apa yang aku lihat?" Mereka pun bertanya, "Apa gerangan yang anda lihat wahai Amirul Mukminin?" Beliau as menjawab, "Aku melihat ada seekor unta yang membawa jenazah beserta seorang lelaki yang menandunya, dan seorang lagi yang menuntunnya. Setelah tiga hari mereka akan sampai kepada kalian." Ketika hari ketiga, maka datanglah unta bersama jenazah yang terikat dan dua orang yang bersamanya. Lalu keduanya mengucapkan salam kepada para jamaah. Beliau as pun menjawab salam mereka seraya bertanya, "Siapa gerangan kalian? Darimana kalian datang? Siapa jenazah ini dan kenapa kalian membawanya?" Mereka menjawab, "Kami berasal dari Yaman, adapun jenazah ini adalah ayah kami. Ketika dia hendak wafat, dia berwasiat kepada kami dan mengatakan, " Jika kalian telah memandikanku dan mengkafaniku serta telah menshalatiku, bawalah aku bersama untaku ke Irak dan kuburlah aku di Najaf,Kufah." Kemudian beliau as bertanya kepada mereka berdua, "Apakah kalian tanyakan kepadanya, mengapa dia ingin dikubur di Najaf?" Keduanya menjawab, "Iya, kami telah bertanya tentang hal itu dan ayah kami menjawab, bahwa disana akan dikebumikan seorang lelaki yang dapat memberi syafaat kepada semua penduduk mahsyar di Hari Kiamat." Lalu Amirul Mukminin as berdiri sambil berkata, "Ayah kalian benar dan Demi ALLAH akulah yang dimaksud."

(Masyariq Anwar al Yaqin, hal 125)

السَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِينَ الله فِي أَرْضِهِ وَحُجَّتَهُ عَلى عِبادِهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيَر المُؤْمِنِينَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ جاهَدْتَ فِي الله حَقَّ جِهادِهِ وَعَمِلْتَ بِكِتابِهِ وَاتَّبَعْتَ سُنَنَ نَبِيِّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ حَتّى دَعاكَ الله إِلى جِوارِهِ فَقَبَضَكَ إِلَيْهِ بِاخْتِيارِهِ وَأَلْزَمَ أَعْدائَكَ الحُجَّةَ مَعَ ما لَكَ مِنَ الحُجَجِ البالِغَةِ عَلى جَمِيعِ خَلْقِهِ،

Selamat atas kelahiran Putra Ka'bah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.



Salam KOPI.

Ujicoba Penutupan Perlintasan Sebidang Jalan Letjen. Soeprapto Mulai 1 Oktober 2016



Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jendral Perkeretaapian Kementerian Perhubungan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya berencana akan melaksanakan ujicoba penutupan Perlintasan Jalan Letnan Jendral Soeprapto (JPL No 29 di KM 6 +241) pada tanggal 1 Oktober 2016. Adapun rencana ujicoba penutupan perlintasan ini akan berlangsung selama 1 bulan atau hingga 31 Oktober 2016. Sebelum ujicoba penutupan akan dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat selama 1 bulan yang dimulai dari tanggal 1 September hingga 30 September 2016.

Adapun rencana penutupan perlintasan sebidang tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Menteri Perhubungan kepada Gubernur DKI Jakarta Nomor : KA.101/2/3 PHB 2015 tanggal 15 Desember 2015 tentang Penanganan Perlintasan Perhubungan tersebut, Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perkeretaapian mengusulkan kepada Pemprov DKI Jakarta agar menutup 19 perlintasan sebidang yang telah diperlengkapi dengan flyover maupun underpass, ke- 19 perlintasan tersebut, yaitu :

1. Lintas Duri- Tangerang :
° Rawa Buaya 1 (JPL No 14 di Km 8+17)
° Rawa Buaya 2 (JPL No 14 di Km 8+17)

2. Jalur Lingkar Jakarta :
° Jl. Bandengan Utara (JPL No 2 di Km 2+823)
° Jl. Bandengan Selatan (JPL No 3 di Km 2+850)
° Jl. Tubagus Angke (JPL No 5 di Km 3+400)
° KH.Hasyim Ashari (JPL No 31 di Km 4+400)
° Pramuka 1 (JPL No 4A di Km 9+019)
° Pramuka 2 (JPL No 4B di Km 9+051)
° Jl. Letjen Soeprapto (JPL No 29 di Km 6+241)
° Jl. Kramat Bunder (JPL No 30 di Km 6+275)
° Jl. Angkasa (JPL No 14A dan JPL No 14B di Km 4+233)

3. Lintas Tanah Abang- Serpong :
° Pejompongan 1 (JPL No 42 di Km 10+374)
° Pejompongan 2 (JPL No 42 di Km 10+374)

4. Lintas Manggarai- Bekasi :
° Pondok Kopi Penggilingan Perlintasan Sebidang (JPL No 63)

5. Jl. Manggarai- Bogor :
° Jl. Lapangan Roos 1 (JPL No 14B di Km 11+890)
° Jl. Lapangan Roos 2 (JPL No 14C di Km 11+894)
° Kalibata Jl. Makam Pahlawan (JPL No 17 di Km 15+309)
° Jl. Pasar Minggu (JPL No 20 di Km 19+096)
° Jl. TB Simatupang (JPL No 20C di Km 20+785)

Terkait rencana penutupan perlintasan sebidang tersebut, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Prasetyo Boeditjahjono mengatakan, bahwa penutupan perlintasan ini dilaksanakan untuk meningkatkan keselamatan, ketertiban dan kelancaran perjalanan kereta api dengan jalan di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Prasetyo menambahkan "Dalam Undang- Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian pasal 91 ayat 1 telah mengamanatkan bahwa perlintasan jalur kereta api dengan jalan harus dibuat tidak sebidang, namun masih dimungkinkan dibuat sebidang dan bersifat sementara dengan pertimbangan letak geografis, tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi KA dan Lalu Lintas Jalan ".


Berdasarkan data Ditjen Perkeretaapian, frekwensi perjalanan KA pada perlintasan Pasar Senen, saat ini sebanyak 17 KA/ jam dengan rata- rata headway 3,52 menit yang berlangsung pada jam sibuk. Melihat frekwensi perjalanan KA yang cukup tinggi tersebut, sudah seharusnya perlintasan sebidang tersebut ditutup.

Bagi pengguna jalan raya diharapkan menggunakan Underpass Soeprapto yang sudah tersedia ataupun rute jalan alternatif yang sudah dipersiapkan Pemprov DKI berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya, imbuh Prasetyo.

Adapun rute jalan alternatif yang dipersiapkan adalah sebagai berikut :
1. Untuk pengguna jalan yang datang dari Utara melewati: Jl. Gunung Sahari- Jl. Gunung Sahari II- Jl. Kepu Selatan- Jl. Bungur Besar- Jl. Soeprapto.
2. Dari arah Selatan, melewati:  Jl. Kramat Raya- Jl. Kwitang (U- turn) - Jl. Prapatan (Jl. KKO. Usman Harun)- Under Soeprapto.
3. Dari arah Timur :  Jl. Soeprapto- Jl. Utan Panjang Barat-  Jl. Kemayoran Gempol -  Jl. Angkasa-  Jl. Gunung Sahari-  Flyover Senen- Jl. Kramat Raya-  Jl. Salemba Raya.
4. Dari arah Barat : Jl. Dr. Soetomo- Jl. Gunung Sahari Raya-  Jl. Gunung Sahari II- Jl. Kepu Selatan- Jl. Bungur Besar- Jl. Soeprapto.


Salam KOPI.

Senin, 29 Agustus 2016

Kecintaan Terhadap Ahlu Bait Dalam Bahasa dan Budaya Cirebon




Kecintaan Orang Cirebon thd Ahlu Bait Dengan Bahasa dan Budaya.

Dalam khasanah budaya dan kosakata Jawa/Sunda, utamanya bahasa  Cirebon banyak terdapat kata atau istilah diambil berdasarkan kecintaan nya pd Keluarga Suci Rasul (Ahlu Bait ).

Yg gamblang dan jelas ada : Macan Ali, Ali- Ali, Kusen dll.

Namun ada kata atau istilah  tersamar yg hanya bisa diketahui bila kita mau mempelajari tiap terminologi atau asal- usul kata di daerah tersebut.

Saya coba satu contoh kita ambil kata SAUDARA yg dlm bahasa umum Jawa/ Sunda berarti SEDULUR dan di Cirebon ada bahasa halusnya (basanan) yaitu SEDEREK.
SAUDARA, kl diurai SA (satu) dan UDARA artinya satu udara (satu ruangan/ wilayah) atau bisa jadi berasal dari kata SEDARAH (artian terlalu sempit,pen). Namun dlm perkembangan bahasa, SAUDARA adalah satu ikatan atau pertalian bisa ikatan darah, perkawinan, persahabatan, keyakinan, dll.

SEDULUR, kl diurai akan jadi SE (Satu)  dan (Di)ULUR(Sifat Tali) . yaitu bisa berarti Satu Ikatan (dalam uluran tali panjang sampai kapanpun tentunya).

SEDEREK, kl diurai akan jadi SE (Satu) dan (Di)EREK (Sifat Tambang/ Tali Besar) yaitu Satu Ikatan ( dalam erekan tali tambang yg perlu ditarik ke atas agar terangkat jiwa persaudaraan).

Filosofi Tali di sini menurut kajian saya yg awam, sangat relevan dgn Kalam Allah dalam Qur'an Surah Maryam 103 : "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."



Yg menjadi pertanyaan siapa dan apa Tali Allah itu...?

Yaa tentu saja Para Maksumin, Wali Allah.  Maka mungkin karena inilah Cirebon dikenal dgn KOTA WALI selain ada Makam Sunan Gunung Jati dan Peninggalan Sejarah Para Wali sbg Penyampai Ajaran Suci Islam.... Wallahu Alam.

Salam KOPI.

Eddie Muller, pengkaji budaya Islam di Cirebon dan Jakarta.

(Nulis bari Ngopi Cah..)

Makna Istighfar.





Makna Istighfar menurut Imam Ali bin Abi Thalib As.
Berkata seseorang di hadapan Imam Ali bin Abi Thalib As. : “Astaghfirullah” Maka Imam Ali berkata kepada orang tersebut : “Apakah engkau tahu arti istighfar? Istighfar adalah derajatnya orang-orang yang dekat dengan Allah. Dan ketahuilah bahwa istighfar itu suatu nama yang mengandung / mempunyai 6 arti yaitu:

1. Menyesali atas apa-apa yang telah terjadi di masa lampau.
2.Bertekad untuk meninggalkan kembalinya perbuatan itu selamanya.
3. Supaya engkau memberikan kepada semua manusia hak-hak mereka sehingga engkau menemui Allah, tidak ada yang mengikutimu dari hak-hak itu.
4. Supaya engkau mengerjakan setiap kewajiban yang engkau telah tinggalkan dan engkau tunaikan hak-haknya.
5. Daging-daging yang tumbuh dari hasil pencarian yang haram, engkau lumerkan dengan kesedihan-kesedihan, sehingga melekat/menempel kulit dengan tulang dan tumbuh di antara nya setelah itu daging yang baru.
6.vSupaya engkau merasakan badan yang sakit karena mengerjakan ketaatan, seperti engkau merasakan manisnya maksiat.
 Dan setelah itu, ujar Imam Ali As., barulah engkau mengucap :”Astaghfirullah”.

 Berkata Imam muhammad Al-Baqir As. :

“Di bumi ini ada dua pengaman dari siksa Allah. Salah satunya telah di angkat oleh Allah dan bagian yang lain, maka berpegang teguhlah dengan yang lain itu. Ketahuilah bahwa pengaman yang telah di angkat oleh Allah adalah Rasulullah SAW dan yang lainnya ialah Istighfar.”

Wasiat Nabi SAW

Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar al-Ghiffari ra pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah SAW. Diantara  isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ;

Aku berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku.”

Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena  ia adalah pokok segala urusan.” “Ya Rasulullah, tambahkanlah.” pintaku. “Hendaklah engkau senantiasa membaca Al-Quran dan berzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu  dilangit.”

“Ya Rasulullah, tambahkanlah.” kataku.

“Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

“Lagi ya Rasulullah.”

“Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan umatku.”

“Lagi ya Rasulullah.”

“Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka.”

“Tambahilah lagi.”

“Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya.”

“Tambahlah lagi untukku.”

“Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui).”

Kemudian beliau memukulkan tangannya ke dadaku seraya bersabda,“Wahai Abu  Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berpikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaknya.”

Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah SAW kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau.



 Kisah Imam Husain As.  yang Dibacakan Ayatullah Mar’asyi Najafi

Buat Pemuda Mabuk

Hujjatul Islam Sayyid Mahmoud Mar’asyi, anakAyatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi yang sempat hidup bersama ayahnya selama 50

tahun menjelaskan kenangan indah mengenai kehidupan sederhana ulama besar ini :

 “Suatu malam, Ayatullah Mar’asyi Najafi diundang untuk menghadiri acara akad nikah satu dari orang yang dikenalnya dan acara berlangsung lama. Ketika kembali dari acara, malam telah larut dan di tengah jalan beliau berjumpa dengan seorang pemuda mabuk yang berteriak-teriak.

 Pemuda itudengan congkak bertanya, “Syeikh! Engkau datang dari mana?”

 Ayatullah Mar’asyi Najafi menjelaskan kedatangannya ke daerah itu dan sekarang ini hendak pulang kerumah.

 Pemuda mabuk itu kembali berkata, “Syeikh! Tolong bacakan kisah duka Imam Husain untukku!”

 Ayatullah Mar’asyi Najafi pada awalnya mencari alasan dengan menyebut di sini tidak ada mimbar, lampu dan tidak terang untuk membacakan kisah duka Imam Husain.

Tiba-tiba pemuda mabuk itu menjatuhkan dirinya di atas aspal dan berkata, “Baiklah, lihat ini  adalah tempat duduk dan duduklah di hadapan saya.”

Hujjatul Islam Sayyid Mahmoud Mar’asyi melanjutkan, “Ayahku kemudian melanjutkan kisahnya:



“Saya kemudian ikut duduk di depan pemuda ini. Ketika saya mulai mengucapkan Yaa Aba Abdillah, pemuda itu langsung menangis tersedu-sedu, sampai pundaknya bergerak-gerak dan membuat saya seperti terdorong oleh gerakan tubuhnya. Saya sendiri terpengaruh oleh tangisannya. Tapi melihat tangisan pemuda itu, saya segera menyadari bila kondisi ini terus berlanjut, pemuda itu akan pingsan. Akhirnya saya menyudahi kisah duka Imam Husain.



Pemuda itu mengatakan, “Syeikh! Mengapa engkau membaca kisah duka Imam Husain dengan singkat.”



Saya menjawab, “Saya merasa kedinginan.”



Ketika saya akan mengucapkan selamat tinggal kepadanya, ia berkata, bahwa saya harus mengantar Anda sampai ke depan rumah, agar tidak ada orang yang seperti saya mengganggu Anda.”



Hujjatul Islam Sayyid Mahmoud Mar’asyi mengakhiri kisah ini dengan mengutip penuturan ayahnya:



“Dua atau tiga pesan setelah kejadian itu, Saya sedang duduk di mihrab Masjid Bala Sar. Tiba-tiba mata saya terpaku pada seorang pemuda yang sedang berjalan mendatangiku. Pemuda itu langsung menjatuhkan dirinya di hadapanku serta bersumpah demi hak dan kehormatan Sayyidah Maksumah kemudian berkata, “Saya memohon maaf dari Anda.”

 Ia kemudian memperkenalkan dirinya. Dari ceritanya saya baru memahami ternyata pemuda ini adalah yang pernah saya temui malam itu dalam keadaan mabuk.

 Pemuda itu berkata bahwa sejak malam itu ia berubah total dan bertaubat. Ia sekarang mengikuti shalat jamaah.

 Pemuda itu hingga akhir hidupnya dengan penuh kekhusyuan dan rendah hati senantiasa mengikuti shalat jamaah di shaf pertama



Salam KOPI.

Rabu, 24 Agustus 2016

Dua Orang Baik Tapi Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia ?



Sobat KOPI, teristimewa untuk anakku yang belum lama menikah, bacalah tulisan
ini sebagai bahan renungan. Tulisan penuh hikmah ini, didapat dari sebuah akun fb teman.

Selamat membaca semoga bermanfaat....

Ibu saya adalah seorg yg sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah krn lambung ayah kurang baik.

Setelah itu, masih hrs memasak nasi untuk anak-anak yg sdg dlm masa pertumbuhan..

Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun.

Menjelang malam, dgn giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu.

Ibu adalah seorg wanita yg sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yg baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tdk memahaminya...

Ayah saya adalah seorang laki-laki yg bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya wkt unt mengantar kami ke sekolah. Ia seorg ayah yg penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yg baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yg baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam.

Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dlm perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yg baik. Saya bertanya pada diri sendiri, "Dua orang yang baik mengapa tdk diiringi dgn perkawinan yg bahagia?"

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu..

Di masa awal perkawinan, saya juga sama spt ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dgn sungguh2 berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dgn giat saya membersihkan rumah dan memasak dgn sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, "temani aku sejenak mendengar alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yg belum dipel?"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul..

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah yg tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya.

Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah pdhal yg dibutuhkan ayah adal menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dlm mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yg bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

KESADARAN MEMBUAT SAYA MEMBUAT KEPUTUSAN YG SAMA

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu unt menemaniku.. rumah kotor sedikit tidak apa-apa.." ujar suamiku.

Saya kira dia perlu rumah yg bersih, ada yang memasak, dst.

"Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yg panjang dan jelas, misal: waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dstnya.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yg sulit, misal: dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti org bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan dgn serius..

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yg sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dlm pernikahan kami..

Bertanya pada pasangan kita, "Apa yang kau inginkan?" ternyata dpt menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGAN KITA.

Kita mungkin sangat lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai.. akhirnya kita kecewa dan hancur.

Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yg kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita.(SatriaHadilubis)



Salam KOPI.

Senin, 22 Agustus 2016

Resep Cilok, Favorit Jajanan Anak



Rasanya, senang lihat anak- anak jajan sambil bermain dengan teman- temannya. Tapi tidak semua jajanan bisa ditemui saat anak- anak sedang di rumah, maka tak ada salahnya sang mama atau papa nya membuat jajanan yang menjadi favorit anak. Nah salah satu nya adalah : CILOK.

Ini resep Cilok, bahan dan pembuatan nya relatif mudah.

Bahannya:
* 200 g tepung kanji
* 200 g tepung terigu
* 2 batang daun bawang, iris halus
* 1/2 adt merica bubuk
* garam secukupnya
* air secukupnya

Bahan Halus:
* 2 siung bawang putih

Bahan Saus Kacang:
* 150 g kacang tanah goreng, haluskan
* 1 sdt gula merah
* 1 adt air asam jawa
* garam secukupnya
* air secukupnya

Cara Membuat Saus Kacang:

1.) Campur jadi satu, kacang yg sudah dihaluskan, air asam, gula merah, air & garam.

2.) Rebus sebentar sampai mendidih & mengental.

3.) Jika suka pedas bs ditambah cabe rawit yg sebelumnya jg dihaluskan.

Cara Membuat Cilok:

1.) Campur jadi satu, tepung kanji + terigu, kemudian tambahkan irisan daun bawang, bawang putih halus, aduk hingga rata. sisihkan.

2.) Panaskan air 400 ml, tambahkan garam & merica bubuk, masak hingga mendidih.

3.) Masukan air yg masih panas tersebut kedalam campuran tepung sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga rata sampai adonan bisa dibentuk.

4.) Bentuk bulat - bulat sebesar bakso / menurut selera.

5.) Rebus cilok dalam air mendidih hingga mengapung & matang. angkat Dan tiriskan.

6.) Sajikan cilok bersama saus kacang Dan saus sambel.

By: #RESEP_MASAKAN_IBU

Saya pun akan membuat jajanan ini bersama anak, hitung- hitung nostalgia waktu mereka masih kecil... suka banget sama yang namanya CILOK...hehehe.

Selamat mencoba....!



Salam KOPI.

Minggu, 21 Agustus 2016

Cara Mengajari Tauhid dan Sholat Kepada Anak.



Salam, untuk orang tua dan calon orang tua ada riwayat petunjuk tata cara mendidik anak mulai usia dini atau balita, yang diajarkan oleh Keluarga Rasul, di sini saya sampaikan riwayat dari Imam Muhammad Baqir as dan Imam Ja'far ash Shaddiq as.


Imam al-Baqir As dan Imam ash Shadiq As, berkata,:

"Bila anak kecil telah mencapai usia tiga tahun maka ajarkanlah kepadanya, 'Lailaha illallah' sebanyak tujuh kali.

Kemudian biarkanlah ia sampai melewati usia tiga tahun penuh lebih 7bulan 20hari. Lalu ajarkan kepadanya, 'Muhammad Rosulullah' sebanyak tujuh kali. Kemudian biarkanlah ia sampai melewati usia lima tahun penuh.

Selanjutnya tanyakan kepadanya, mana sebelah kanan dan kirimu?

Bila ia mengetahui kedua arah tersebut maka arahkanlah wajahnya kekiblat dan katakan kepadanya: sujudlah kamu. Kemudian biarkanlah ia sampai melewati usia tujuh tahun penuh.

Bila telah menginjak usia tujuh tahun penuh maka katakan kepadanya: basuhlah wajahmu dan kedua telapak tanganmu. Selesai membasuh keduanya, katakan padanya: lakukanlah sholat. Kemudian biarkanlah ia melewati usia sembilan tahun.

Usai menginjak usia sembilan tahun, maka ajarkanlah cara berwudhu dan bila ia meninggalkannya maka berilah ia peringatan (hukuman) lalu perintahkanlah ia supaya mengerjakan sholat dan bila ia meninggalkannya maka berilah peringatan. Bila anak tersebut berhasil mempelajari dan memahami cara wudhu dan sholat maka Insya Allah kedua orang tuanya akan diampuni dosa-dosanya."

(Al- Amali, hal. 475)

Semoga bermanfaat untuk para orang tua, dan semoga berhasil dalam mendidik.



Salam KOPI.