Senin, 01 Februari 2016

Ketika Bung Karno "Melihat" Saya Menulis #Sarinah Is Me.



Saat menulis tentang Sarinah, sosok Bung Karno seperti berada di ruangan tempat saya  ini dan anehnya seakan beliau menyimak dan  ingin mengetahui keadaan gedung yang beliau resmikan 50 tahun yang lalu, tepatnya 15 Agustus 1966.



"Kowe arep nulis opo to Dy ( kamu sedang menulis apa yaa Dy) ?"
Bung Karno seperti berada di belakang bangku saya...
"Salam hormat, Saya sedang menulis tentang Sarinah Department Store Bung..." Jawab saya berusaha tenang dan penuh hormat.  

Lalu BK bertanya lagi "Oo yaa...kenapa dengan Sarinah... En siapa namamu, engkau pejabat di Sarinah kah  ?? 
"Maaf Bung, saya seorang blogger dan  nama saya Kak Eddy, kemarin (28/01/2016) saya bersama KOPI berkunjung ke sana atas undangan direksi PT.Sarinah Persero..."

BK memotong.."Nanti dulu..Sorry boleh eike tanya kenapa bawa KOPI segala... di Sarinah tidak ada kopi yaa...??"

Saya merasa tidak enak jadinya, karena lupa memberi tahu tentang KOPI, "Oh maaf Bung, KOPI itu singkatan dari kepanjangan  Koalisi Online Pesona Indonesia dan saya adalah salah satu anggotanya. Semacam kumpulan para penulis gitu...hehee.... "
"Hahaa... eike faham, so siapa ketuanya broer Eddy...?" BK antusias kelihatannya dan saya senang beliau memanggil nama saya  dengan Kak ( sebutan familiar KOPI ).



"Di KOPI tidak ada ketua, tapi sebagai koordinator atau tepatnya pengasuh gitu,... pengasuh kami bernama Fachrul Muhsen, biasa disapa Kak Arul, beliau juga insinyur lho seperti Bung...heee.. ?!? Begitu jawab saya sambil tersenyum, agar tidak terkesan kikuk dihadapan tokoh paling hebat dan kharimatik di tanah air Indonesia maupun salah satu  tokoh terkenal Dunia.
"Groot..groot...,Jadi Kak Arul itu seperti eike yaa, ho hoo, memang jalan hidup tak selalu sesuai akademik... ok, teruskan ceritanya..." BK menyimak... "Lalu apa yg mendorong beliau ingin bertemu kalian...?!? Tanya BK penasaran.

"Begini Bung, hmm boleh saya bikin kopi dulu...?!? Saya mencoba break dulu sekedar mencari data kunjungan kemarin  supaya bisa menerangkan secara detail dan akurat... "Kami berjumlah sekitar 30 blogger disambut hangat oleh ibu Magri, salah satu pimpinan Sarinah di satu gerai cantik nan sederhana bernama "Ruang Tengah Cafe & Resto". Kami berkenalan dan berbincang sambil menunggu ibu Ira Puspadewi, Direktur Utama PT. Sarinah Persero."
Sambil memperbaiki duduknya, BK bergumam " Hmm.... Ira Puspadewi, sungguh indah nama itu boleh tau profilnya? " 

"Tentu Bung dengan senang hati, setau saya ibu Ira menjabat baru 1 tahun lebih, tepatnya bulan Juli 2014, beliau diangkat oleh Dahlan Iskan, Menteri BUMN saat itu . Karier sebelumnya adalah direktur di  perusahaan fashion asing terkemuka di Asia Pasifik dan  lulusan S3 Jurusan Ekonomi di UI. " 



Setelah kopi tersedia, saya melanjutkan obrolan penting ini... "Saya mulai dari peristiwa 2 minggu yang lalu (14 januari 2016), hari itu menjelang siang sekitar pukul 10.00 wib terjadi suara tembakan dan ledakan di Perempatan Pos Polisi Jalan H M. Thamrin serta di halaman Gedung Skyline, sasana tenang berubah ricuh, suara tembak- menembak terjadi dikeramaian jantung kota. Untungnya keadaan ini  cepat diatasi oleh pihak kepolisian dibantu TNI hanya dalam tempo 4 jam. Memang ada 7 korban tewas dan luka- luka tapi sebagian yang tewas adalah pelaku kerusuhan sebanyak 5 orang dan 2 lainnya tertangkap dan diamankan. Bahkan Presiden Jokowi yg saat kejadian sdg berada di luar kota (Cirebon) langsung kembali ke Jakarta dan  beserta pejabat terkait datang ke lokasi untuk menenangkan keadaan. "





"Apa hubungannya dengan Sarinah... Toh keadaan sudah kondusif...?!?" Sela BK kritis.

"Dampak dari pemberitaan tentang kejadian itu yang memicu pihak Manajemen Sarinah harus mengklarifikasi dan membantah setiap pemberitauan berita agar tidak simpang- siur. Sebagai seorang pimpinan dan saksi pada kejadian tersebut, ibu Ira perlu menjelaskan semua ini pada publik karena dikhawatirkan  berpengaruh pada pendapatan dan nama Sarinah itu sendiri sbg aset nasional. Di mana ada sekitar 600 karyawan juga 400 UKM yang berdagang belum lagi perkantoran yang disewa menjadi tanggung jawabnya. " Bung Karno terdiam sambil memandang ke atas mungkin tengah  membayangkan nasib  gedung bersejarah itu. 
Saya melanjutkan cerita "Inilah barangkali menurut saya mengapa ibu Ira bersedia bertemu dengan kami (KOPI red.)"

"Dimengerti, and than apa  saja yang dibicarakan ibu Ira Puspadewi perihal ke depannya supaya Sarinah tetap survive and still must go on...?!?" Nampak BK mulai tenang dan menyandarkan bahunya di tembok sambil meluruskan kakinya. "Ibu Ira Puspadewi menerangkan kpd kami tentang 3 hal pokok yang menjadi fokus agendanya, yakni ;
-Etalase Product Kearifan Lokal Nusantara, Sentra UMKM yang menjadi andalan Indonesia dan Pusat Perdagangan Produk Ekonomi Kreatif. Selain itu dalam mengimbangi persaingan dunia bisnis, PT. Sarinah Persero ingin melebarkan range lokasi tanpa harus meninggalkan nilai sejarah yang sangat klasik..."

"Maksudnya apa dengan nilai sejarah...?!?" Bertanya BK tentang hal sensitif
"Bung belum tau, bahwa gedung Sarinah pernah mengalami dua kali (2x) musibah kebakaran (1984 dan 2015), tentu sedikit-banyaknya  sudah berubah tapi isi gedung masih ada yang seperti Bung Karno lihat dulu. Tangga berjalan (eskalator) sampai sekarang masih berfungsi dengan baik, bayangkan betapa repot memaintancenya. Juga ukuran gedung relatif masih seperti dulu.." Hanya penambahan lantai kini ada 14 lantai. Lantai basement dan lantai 1 sampai 5 digunakan sebagai department store, sisanya sebagai ruang perkantoran, untuk lantai 10 digunakan sbg kantor manajemen termasuk ruang pimpinan. Oo yaa saya lupa Bung, dari ruang inilah ibu Dirut melihat langsung kejadian 14 januari itu dan memberi komando agar semua pegawainya yg 70% wanita  tetap tenang."


"Luar biasa Sarinah Muda itu...!!" BK memuji ibu Dirut rupanya... Hehee...
"Broer Eddy kenapa kowe melongo, ayuh diteruske cerita pertemuan itu...!" Bung Karno mengajak serius lagi. "Nyuwun sewu Bung, saya ke warung dulu beli cemilan sama rokok, biar semangat ngetiknya. " Wajah BK hanya mesem saja, ketika saya permisi dan pergi buru- buru...

"Nah kopi sudah ada, cemilan sama rokok juga tersedia, tinggal apa lagi...?? " BK mengingatkan saya untuk meneruskan cerita pertemuan kemarin.  "Siaapp Komandan...!" Jawab saya tangkas. Soalnya udah fresh again... Hehee...

"Setiap kejadian tentu  ada hikmahnya, yaitu semua orang, tidak terkecuali  bersimpati dengan berkumpul membawa dan membagikan bunga dan memasang spanduk bertuliskan "Kami Tidak Takut" di depan halaman Gedung Sarinah. Juga para netizen di dunia maya dan sosmed membully habis para pelaku teror dengan beragam meme dan hastag #Indonesia is Me, #Kami Tidak Takut, #Jakarta Aman dsb. Pihak Sarinah pun tak kalah gencar memasang hastag #Sarinah Is Me, #Sarinah Menyapa Dunia. 


"Sebagai professional bisnis, ibu Ira ini tak berhenti sampai di situ, cita- citanya ingin mengembangkan Sarinah Department Store lebih mendunia dengan menjadikan Sarinah sebagai Global Face of Indonesia agar bisa bersaing minimal di level Asean. Satu hal yang jadi target beliau adalah menjadikan kuliner Indonesia trademark di Sarinah nanti, dan ini sudah terlihat dari banyaknya gerai  di lantai foodcourt. Sure Bung, saya merasakan sendiri masakan khas Indonesia selain rasanya maknyuss juga tampilan masakan begitu kaya akan kreasi. Saya yakin untuk bidang ini Sarinah mampu bersaing dengan aneka masakan asing, malah bisa jadi acara makan siang akan tumplek di sini..." Tumben saya bicara begitu meyakinkan kepada BK.

"Apa saja yang kamu cicipi, hingga seperti promosi begitu...?? " kilah BK.
"Yaa ada ikan bakar gurih bingiits plus  sambelnya, tauge goreng ikan asin, ayam ditepungin tapi renyah bak krupuk, tahu seperti kornet, nasi goreng hijau rasanya bikin perut ga ada kenyangnya, pokoknya semua kuliner yang tersaji ga ada di zaman paduka, maaf its fact mister..." jawab saya kebablasan.
"Yaa yaa eike percaya semua itu. Keliatan koq tulisanmu jujur dan apa adanya...hehee " tutur BK seraya berdiri seperti ingin bergegas.


"Punten, paduka hendak kemana gerangan...?? Sekali lagi ngapuro punten kalau menyinggung panjenengan " Tanya saya karena takut kalau menyinggung perasaan saat menceritakan menu hidangan saat pertemuan dengan ibu- ibu Sarinah.

"Hahaa, neit..neit... justru eike senang mendengar semua ceritamu dan ada kepuasan di hati. Ketahuilah eike membangun Sarinah itu juga bertujuan ingin memajukan perekonomian Indonesia yang saat itu sedang krisis...." BK terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kalimat panjangnya. " Tahun itu sekitar tahun 60an, Indonesia sangat habis- habisan secara politik kita di embargo karena keluar dari UN (Perserikatan Bangsa Bangsa ). Juga kita boikot Olimpiade, sehingga harus survive membangun Gedung Olahraga (Gelora) untuk acara Ganefo sebagai tandingan Olimpiade. Belum lagi urusan Irian Barat, yang bukan saja menelan kerugian yg tdk sedikit, banyak prajurit gugur sbg kesuma bangsa tetapi alustista kita juga banyak pula yang hilang dan rusak. Konfrontasi dengan Malaysia juga membuat sebagian  anggaran  difokuskan ke sini.   Itulah resiko yang ditanggung atas sikap revolusi kita  pd saat itu. Maka eike selaku Pemimpin Tertinggi, berpikir keras agar ke depan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. Pembangunan gedung ini memang dirasa sangat lambat, selain dana terbatas itupun hasil pampasan perang. Bukan Gedung Sarinah saja, banyak proyek berjalan lamban itupun  melalui simpatik dari negara lain dan rakyat untuk Pembangunan seperti : Rumah Sakit Rusia (sekarang RS. Persahabatan), Monumen Nasional, Jalan By- Pass, dan lain- lain. Dan kamu tahu kan tahun 1965, terjadi chaos (G- 30 S/ PKI) yang berakibat hancurnya revolusi yg tengah dibangun agar Indonesia menjadi raksasa Asia dan disegani dunia. Untungnya meski tertatih- tatih Gedung Sarinah akhirnya selesai juga dan diresmikan bulan Agustus di tahun 1966." 

Saya hanya diam menunduk dan airmata  bergenang di pelupuk mata, melihat saya sedemikian, BK berkata lirih "Kak Eddy, eike pamit yaa... Danke sudah berbagi dan mau bercerita tentang Gedung Sarinah masa kini. Hati eike lega untuk meninggalkan ruangan  ini, kalau boleh berpesan, " Dalam kehidupan ini kita tidak selalu bisa tepat sesuai rencana...


Tetapi yakinlah selalu ada hikmah di balik semua itu apalagi dilakukan karena cinta dan kasih- sayang  pasti berbuah manis pada akhirnya.... Mbok Sarinah mengajarkan itu (cinta dan kasih- sayang) dan sekarang ibu- ibu Sarinah tengah mewujudkan semua seperti yang kamu ceritakan kpd eike..." tiba- tiba tokoh Revolusioner itu  menghilang saat saya mendongak ke arahnya.


Saya menyesal belum menceritakan kepada Bung Karno kalau bulan depan ada acara dengan istri-istri Duta Besar di Sarinah sehubungan dengan tagline Greets The World and Global Face of Indonesia. 
But, no problem toh eike eh latah ikutan gaya Bung Karno...hehee... maksudnya saya nanti juga akan menulisnya untuk Sobat KOPI.




Salam KOPI.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar